Menguak Kebohongan Ajaran Syiah

Syi’ah mencela para sahabat Nabi SAW, tapi apakah akal dan logika yang sehat dapat menerima tuduhan Syi’ah? Apakah tuduhan Syi’ah bisa dicerna akal yang sehat? Atau hanya bisa diterima oleh mereka yang akalnya istirahat?

Ahlus Sunah meyakini para sahabat Nabi secara umum adalah generasi terbaik di bawah tingkatan para Nabi, khususnya Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.

Ahlus Sunnah mendasarkan pendapat diatas dari dasar-dasar:

Ayat-ayat Al-Qur’an yang memuji mereka, dan juga sunnah Nabi pun yang memuji mereka.

Akal sehat yang menetapkan bahwa mereka telah lulus mengikuti pelajaran di sekolah terbesar dalam sejarah, yang diasuh oleh Rasulullah, yang dibimbing langsung oleh Allah SWT.

Begitu juga dengan fakta yang ada, mereka dapat menaklukkan dunia dalam waktu yang sangat singkat.

Sebaliknya, Syi’ah 12 Imam mereka menyatakan bahwa sekolah ini telah gagal, dan para sahabat tidak ada yang lulus kecuali sedikit, kurang dari jumlah jari tangan.

Kitab Al-Kafi memuat riwayat dari Humran bin A’yun, saya bertanya pada Abu Ja’far: “Semoga aku dijadikan tebusan bagimu, betapa sedikit kelompok kita, jika kita berkumpul untuk makan seekor kambing pasti tidak dapat menghabiskannya, lalu Abu Ja’far berkata: Maukah aku ceritakan perkara yang lebih mengherankan: Seluruh Muhajirin dan Anshar semuanya telah pergi kecuali –Abu Ja’far membuat isyarat angka tiga dengan tangannya– yakni, mereka semua telah murtad selain tiga orang saja.” (Al-Kafi, jilid. 2, hal. 244).

Apakah vonis ini dapat diterima oleh akal sehat?

Akal sehat yang terbebas dari pengaruh luar dan sungguh-sungguh mencari kebenaran layak untuk menemukan kebenaran dengan izin Allah.

Di sini kami berusaha untuk memaparkan kebenaran lewat penjelasan singkat berikut;

Pertama; Para sahabat kaum Muhajirin mereka dulunya adalah orang-orang musyrik yang memeluk agama yang dianut oleh kaum mereka sendiri, lalu Allah mengutus Nabi dari golongan mereka yaitu Muhammad SAW, yang kemudian menjelaskan kebatilan agama mereka. Kaumnya mendustakan dan mengingkari ajakan Nabi Muhammad, tetapi ada beberapa orang dari kaum Quraisy yang menyimpang dari ajaran kaumnya, lalu memeluk agama Islam walaupun dengan menghadapi resiko yang menghadang. Kaum Quraisy memusuhi mereka, mengusir mereka dari tanah air, bahkan banyak dari mereka yang disiksa dan dibunuh. Setiap orang yang masuk Islam tidak lagi dihormati dan tidak lagi diajak bicara, kaum Quraisy memboikot ekonomi mereka, ada dari mereka yang menghadapi ujian itu dengan tabah, ada juga yang dilindungi oleh kabilah mereka, ada juga yang berhijrah ke Habasyah, menanggung beban sebagai orang asing yang jauh dari tanah air dan sanak saudara, tanpa imbalan harta dan hasil duniawi yang diraih.

Realita ini diakui oleh seluruhnya, baik Ahlus Sunnah maupun Syi’ah, tapi nampaknya kitab-kitab Syi’ah tidak memuat cerita tentang penderitaan yang dialami para sahabat Nabi di Makkah saat mereka beriman, yang mana hal ini memudahkan pembaca untuk menerima tuduhan yang dilontarkan oleh Syi’ah pada mereka.

Ke-dua; Jika tidak, berarti para sahabat yang masuk Islam karena yakin atas kebenarannya dan beriman kepada kenabian Muhammad, mereka masuk Islam dan menghadapi segala rintangan dan ujian yang berat hanya pura-pura dan mereka menampakkan keIslaman untuk menipu Rasulullah, karena mereka mengetahui apa yang bakal terjadi di masa depan, yaitu Islam akan menang, mulia dan menguasai dunia.

Kita akan mengambil contoh dari kejadian masa kini untuk menggambarkan masalah ini dengan lebih jelas, yiatu kisah Khomeini.

Khomeini muncul di masa Syah yang dzalim, dia memusuhi Khomeini, mempersempit gerakannya, memenjarakan dan mengusir Khomeini dari tanah airnya.

Di masa-masa sulit itu Khomeini memiliki beberapa orang murid yang setia, yang ikut mengalami penderitaan sebagaimana Khomeini, ikut dipenjara dan diusir, apakah mungkin jika murid-murid itu dibilang pembohong dan tidak benar-benar yakin dengan ajaran Khomeini, mereka sudah memperkirakan revolusi akan menang dan mereka menjadi murid Khomeini agar kelak mendapatkan harta dan jabatan setelah Khomeini menang. Jika ada yang menyatakan demikian pasti dia dicela dan dihujat, meskipun realita di zaman ini bisa membuat hal itu mungkin terjadi, namun kami tidak menuduh.

Sedangkan pada kondisi masyarakat Quraisy tidak pernah ditemukan hal itu terjadi sehingga kita bisa memperkirakan terjadi pada mereka. Jika kemungkinan ini sangat jauh dari pengikut Khomeini, meskipun ada kemungkinan terjadi walaupun beberapa persen saja, maka kemungkinan untuk terjadi pada sahabat Nabi lebih jauh lagi.

Ke-tiga; Kaum Anshar yang datang dari Madinah untuk menunaikan ibadah haji lalu menemui Nabi dan masuk Islam dan kembali ke kaum mereka, dan mengajak mereka masuk Islam, lalu banyak dari kaum Anshar yang menerima Islam. Pada tahun berikutnya beberapa kelompok lain datang ke Mekkah untuk menunaikan haji serta menemui Nabi, mereka masuk Islam dan bebaiat untuk membela Nabi, sedangkan mereka tahu bagaimana kaum Quraisy dan seluruh bangsa Arab saat itu memusuhi Nabi, dengan berbaiat mereka siap menempuh peperangan yang hasilnya tidak jelas.

Apakah mereka masuk Islam dan bebaiat untuk berperang membela Nabi karena beriman dan mencintai Allah dan Rasul-Nya ataukah mereka masuk Islam dan berbaiat karena mereka tahu apa yang terjadi di masa depan, yaitu Nabi akan menang dan memiliki negara, dan mereka akan menggantikan Nabi memerintah negara setelah Nabi wafat?

Orang yang berakal sehat hanya bisa mengakui bahwa kaum Anshar masuk Islam dan berbaiat untuk berperang membela Nabi hanyalah keimanan mereka pada Allah dan kecintaan mereka pada-Nya dan pada Nabi SAW.

Ke-empat; Kaum Anshar yang menyambut kedatangan kaum Muhajirin yang berhijrah dari Mekkah, membuka pintu rumah mereka lebar-lebar, membagi harta dan segala milik mereka dengan kaum Muhajirin, bahkan ada yang memiliki istri lebih dari satu dan menawarkan istrinya kepada kaum Muhajirin, apakah semua itu mereka lakukan karena beriman pada Allah dan Rasul-Nya atau karena ingin mencari kenikmatan dunia yang belum jelas keberadaannya?

Apakah pernah terjadi dalam sejarah, orang-orang seperti kaum Anshar yang membagikan harta pada saudaranya karena mengharapkan balasan dunia yang belum jelas?

Meragukan kenyataan seperti ini dapat membuat kita meragukan seluruh kenyataan dan membuat kita tidak lagi percaya kepada apa yang ada, juga membuat akal jadi rusak dan gila.

Ke-lima; Kita semua tahu Abu bakar, Umar dan Utsman serta Ali, mereka semua selalu bersama Nabi sejak hari-hari pertama kenabian, mereka yang bersama Nabi pada awal-awal dakwah dan tidak pernah berpisah dengan Nabi baik ketika di kota Mekkah maupun saat bepergian jauh, selalu bersama Nabi dalam segala kondisi, baik kondisi aman maupun dalam kondisi perang dan damai, kecuali pada beberapa saat atas perintah Nabi kepada beberapa sahabat untuk tidak bersama Nabi.

Kenyataan ini disepakati bersama oleh Ahlus Sunnah dan Syi’ah.

Ke-enam; Para sahabat Nabi beriman dari lubuk hati mereka yang paling dalam. Atau mereka hanya menampakkan keimanan dan selalu mengintai dan melancarkan makar pada Nabi.

Ini adalah satu hal yang mustahil bagi kami Ahlus Sunnah, tetapi kita ingin memberikan premis yang logis untuk mencapai kebenaran.

Ke-tujuh; Jika memang benar para sahabat hanya menampakkan keimanan, apakah Nabi menyadari hal itu atau Nabi tidak sadar bahwa sahabat hanya pura-pura beriman?

Jika Nabi tahu akan hal itu, ternyata Nabi hanya diam saja dan tahu akan niat buruk para sahabat yang ada di sekitarnya, lalu membiarkan para sahabat tetap bersama Nabi pada peristiwa-peristiwa dalam hidupnya, sampai-sampai orang yang melihat Nabi pasti melihat sahabat berada di sekitarnya, juga setiap yang meriwayatkan dari Nabi pasti meriwayatkan bagaimana sahabat dekat dengan Nabi. Ini adalah bukti nyata tentang kecintaan serta keridhoan Nabi pada sahabat.

Bahkan melebihi itu semua, Nabi memuji para sahabat, dan menikahi anak perempuan para sahabat dan ada sahabat yang menikah dengan anak perempuan Nabi.

Ke-delapan; Nabi juga bermusyawarah dengan para sahabat dan sering menerima pendapat para sahabat pada banyak masalah.

Selanjutnya Nabi meminta Abu Bakar untuk menjadi Imam shalat selama Nabi sakit dan tidak dapat pergi ke masjid untuk shalat berjama’ah.

Jika Nabi memilih Abu Bakar sementara ia dianggap tidak layak menjadi Imam, berarti Nabi telah berkhianat pada umat jika Abu Bakar menjadi Imam karena paksaan dan kehendak para sahabat yang tidak dapat ditolak oleh Nabi, hal ini bisa membuat orang tidak lagi percaya pada kenabian dan penyampaian Nabi.

Dengan hal itu berarti Nabi memuji para sahabat karena terpaksa dan takut pada sahabat. Jika Nabi meminta Abu Bakar untuk menjadi Imam karena takut atau terpaksa, bisa jadi banyak hal yang disembunyikan oleh Nabi karena takut pada sahabat, Astaghfirullah…

Juga bisa jadi Nabi mensyareatkan banyak hal karena takut pada sahabat. Hal ini membuat kita tidak lagi percaya pada agama Allah, maka apa-apa yang disampaikan oleh mereka tidak bisa kita percaya, Al-Qur’an disampaikan oleh para sahabat kepada kita, begitu juga kita dapat mengetahui keimanan para sahabat –termasuk Ali– adalah dari penyampaian mereka juga, maka semua tidak bisa kita percaya lagi. Seluruh sahabat Nabi, dari mulai Abu Bakar dan Ali tidak bisa kita percaya keimanannya, kita tidak lagi bisa tahu sahabat mana yang beriman dan sahabat mana yang tidak beriman, karena kita hanya tahu hal itu dari kesaksian para sahabat sendiri.

Benarkah sahabat Nabi berkhianat dan menyalahi wasiat Nabi?

Ke-sembilan; Apakah Allah tahu jika para sahabat benar-benar beriman?

Jika kita menyatakan bahwa Allah tahu, Allah telah mendiamkan para sahabat yang berada di sekitar Nabi, bahkan Allah sendiri yang memilih para sahabat untuk menemani perjuangan Nabi serta memuji mereka pada beberapa puluh ayat dalam Al-Qur’an, ayat-ayat itu menjadi bukti keimanan dan keutamaan para sahabat.

Jika Allah tidak tahu maka hal itu mengurangi sifat ketuhanan Allah –Allah pasti tahu–.

Jika Allah tahu bahwa sahabat Nabi adalah orang-orang munafik lalu tidak memberitahukan kepada Nabi padahal Allah tahu bagaimana kualitas  iman mereka, berarti Allah memang menginginkan Nabi-Nya dikelilingi dan dikuasai oleh kelompok munafik, maka ini berarti tugas dan fungsi kenabian belum tercapai.

Allah berfirman:

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 165).

Ke-sepuluh; Allah mengetahui keimanan para sahabat tetapi mereka kelak akan kembali murtad dan mengkhianati wasiat, tetapi Allah hanya diam saja tidak memberitahu Nabi tentang apa yang akan terjadi, yaitu para sahabat akan murtad dan menkhianati wasiat, tetapi yang terjadi adalah justru Allah memuji mereka begitu juga Nabi pun memuji mereka, tidak memperingatkan umat akan pengkhianatan para sahabat. Berarti ini adalah sebuah tuduhan kepada Allah, bahwa Allah lah penyebab terjadinya pengkhianatan para sahabat.

Kami memohon ampunan Allah atas segala peranggapan di atas, tetapi tujuan kami adalah membangunkan akal pikiran syi’ah yang telah ditidurkan dan dikepung oleh riwayat-riwayat palsu dari segala arah, sehingga membuat mereka tidak bisa lagi berfikir.

Ke-sebelas; Allah telah mengutus Nabi Muhammad untuk menegakkan keimanan di muka bumi. Inilah keyakinan Ahlus Sunnah.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (QS. At-Taubah: 33).

Juga Dia berfirman:

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq (benar) agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. Al-Fath: 28).

Inilah janji Allah, apakah yang telah dilakukan Nabi agar tujuan ini dapat tercapai?

Nabi mendidik sekelompok orang untuk menegakkan kedaulatan iman di muka bumi, Nabi membimbing mereka agar keluar dari kegelapan syirik menuju cahaya iman, mereka menjadi orang-orang terdekat Nabi, para sahabat adalah teman hidup dan tempat Nabi meminta pendapat, lalu Nabi memilih satu orang di antara mereka, mendekatkan orang itu padanya dan mengangkat orang itu pada peristiwa yang besar, sehingga orang-orang di sekitar Nabi tahu akan hal itu, sehingga mereka menghormatinya dan mengakui kedudukannya yang tinggi, padahal sebelumnya dia dan kabilahnya tidak memiliki kedudukan seperti itu.

Jika orang yang dicintai oleh Nabi dan ditinggikan kedudukannya hingga dihormati oleh seluruh sahabat memang layak untuk hal itu maka Nabi telah melakukan yang semestinya,

Tetapi jika orang itu ternyata tidak layak untuk kedudukan itu maka Nabi telah melakukan kesalahan karena mengangkat kedudukan orang yang salah, yang diketahui akan berbalik menggerogoti Islam dan melanggar wasiatnya, akhirnya menegakkan negara kafir bukannya negara iman dan Islam –tapi tidaklah mungkin Nabi melakukan hal itu.

Orang itu adalah Abu Bakar, dia selalu ada di dekat Nabi pada setiap peristiwa penting.

Nabi bersama Abu Bakar pada peristiwa yang terpenting dalam Islam, yaitu pada peristiwa hijrah, yang kelak menjadi awal bagi berdirinya negara Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya:”Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-taubah: 40).

Nabi menikahi putri Abu Bakar, adalah suatu kehormatan bagi Abu Bakar, karena anaknya menjadi ibu kaum beriman (ummul mukminin).

Allah berfirman:

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama).Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).” (QS. Al-Ahzab: 6).

Pada perang Badar, Abu Bakar berada di kemah bersama Nabi, hanya ada mereka berdua.

Nabi menyuruh Abu Bakar untuk menjadi imam shalat selama Nabi sakit.

Ada banyak lagi peristiwa yang menunjukkan keistimewaan Abu Bakar di mata Nabi, menunjukkan kedekatannya pada Nabi. Peristiwa itu tercantum pada kitab hadits tershahih.

Segala keistimewaan di atas itulah yang membuat para sahabat mengangkatnya menjadi khalifah sepeninggal Nabi, mendorong para sahabat untuk berbaiat dan taat pada perintah Abu Bakar dan menjauhi apa yang dilarangnya. Abu Bakar mengutus pasukan untuk berperang dan menaklukkan banyak negeri, dia menunjuk Umar sebagai penggantinya dan juga ditaati oleh para sahabat, padahal Abu Bakar tidak memiliki kabilah yang kuat, juga miskin dan tidak pernah memberikan hadiah agar orang mau taat padanya, hingga akhirnya Abu Bakar dikuburkan di samping kuburan Nabi atas kerelaan seluruh sahabat Nabi.

Abu Bakar dihormati saat hidupnya maupun setelah matinya, kira-kira apa sebabnya?

Itu semua karena Abu Bakar dekat dengan Nabi.

Jika hal itu adalah sikap yang benar –sebagaimana diyakini oleh Ahlus Sunnah– maka Abu Bakar adalah sebuah bagian dari misi kenabian, jika memang tidak benar –kita memohon ampun pada Allah, dan meminta maaf pada Nabi, anggapan-anggapan ini hanya bertujuan untuk membangkitkan akal mereka yang dikepung oleh riwayat palsu yang menghujat kenabian– maka misi dakwah Nabi tidak tercapai.

Apakah logis jika semua itu terjadi tanpa persetujuan Nabi yang menjadi penyebab bagi terhormatnya Abu Bakar di mata para sahabat?

Ke-duabelas; Jika memang para sahabat telah murtad –berganti agama/keluar dari Islam– lalu agama apa yang mereka peluk setelah mereka keluar dari Islam?

Kisah kehidupan para sahabat adalah jelas.

Para sahabat menyembah Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan ramadhan dan pergi menunaikan ibadah haji ke tanah suci, mereka juga berjihad di jalan Allah dan menaklukkan negeri-negeri, mereka menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, tidak meninggalkan ajaran Islam sedikitpun.

Padahal agama mereka saat jahiliyah berbeda dengan agama Islam yang mereka ikuti, lalu mereka berpindah ke agama mana?

Jika ada yang menjawab: Mereka meninggalkan imamah, dan mengangkat orang lain yang tidak berhak menjadi imam.

Yang menjadi khalifah adalah satu orang saja, yang berasal dari satu kabilah, bagaimana seluruh kabilah rela untuk menjadi murtad, hanya demi seseorang dari satu kabilah yang menjadi khalifah?, yang akhirnya mereka kehilangan Islam demi orang itu, padahal kabilah-kabilah itu juga segera taat dan tunduk padanya sementara dia dianggap orang yang murtad dan menerapkan ajaran agama selain Islam?

Bukankah ini sebuah kontradiksi?

Apakah mereka tidak memiliki keberanian untuk membela Islam dan memberontak pada khalifah yang memaksakan penerapan ajaran agama yang tidak mereka sukai??

Bukankah Abu Bakar telah merampas imamah padahal imamah adalah salah satu rukun Islam dan memaksa masyarakat untuk menerapkan ajaran agama lainnya yang tidak berguna di sisi Allah karena imamah tidak dilaksanakan –seperti anggapan syi’ah–???

Bahkan Abu Bakar memerintahkan para sahabat untuk berperang dan mati demi ajaran agama itu, dan para sahabat dengan sukarelah mentaatinya, padahal semua itu tidak ada gunanya di sisi Allah –menurut syi’ah– karena para sahabat tidak mau membaiat imam yang ditunjuk oleh Allah –lagi-lagi menurut syi’ah–.

Anggap saja ada beberapa orang yang memang oportunis, menganmbil kesempatan demi kepentingan mereka sendiri, tetapi mengapa semua ini diterima oleh lebih dari sepuluh ribu orang padahal semua ini adalah demi kepentingan beberapa person saja? Bukan ajaran agama yang benar dari Allah?

Akal yang sehat tidak akan pernah bisa menerima kemungkinan-kemungkinan di atas, yang muncul dari riwayat-riwayat yang dipalsukan dan mencatut nama keluarga Nabi, yang memvonis sepuluh ribu orang sahabat sebagai murtad, hanya karena mereka mengkhianati Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, yang berasal dari Bani Hasyim dari suku Quraisy, yang juga anak paman Nabi karena iri dan dengki, dan sebaliknya mereka pun tidak dengki kepada Abu Bakar yang bukan dari bani Hasyim, keluarga yang dihormati oleh bangsa arab baik di masa jahiliyah maupun Islam.

Inilah bukti-bukti logis, yang tidak akan pernah habis dalam membantah tuduhan syi’ah, tetapi sedikit pembahasan akan cukup bagi orang yang dibuka hati dan akalnya oleh Allah untuk merenungkannya, juga mau memohon petunjuk kepada Allah, karena Allah akan memberi petunjuk bagi yang mau meminta tolong dan berlindung pada-Nya.

Akhirnya, kami memohon kepada Allah agar sudi memberi petunjuk pada hati kita dan membangkitkan akal kita untuk berpikir, meluruskan pemahaman kita, melindungi kita dari segala fitnah, juga mempersatukan umat di bawah naungan Al-Qur’an dan sunah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala ‘aalihi wa shahnihi wa sallam, sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Menjawab Permohonan hamba-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: